Desember 21, 2021

Menjadi Perempuan

Melihat banyak sosok yang ku pikir akan menjadi panutanku kelak dimasa depan ternyata berakhir pada pertanyaan untuk diri sendiri.
Sibuk mencari, menekuni dan menjalani apa yang terukir dalam diri akhirnya pun terhenti tatkala perubahan pada diri lebih besar keinginannya untuk mencari hal baru lagi. Lantas, apa yang sebenarnya kamu angankan? 

Sejatinya, orang bilang tak usahlah terlalu mengejar angan-anganmu karena itu akan sia-sia. Namun bersyukurnya aku karena tidak hidup dengan sosok yang terbelenggu dengan pikiran itu. Aku tumbuh dan dibesarkan oleh campur tangan seorang perempuan, yaitu ibuku. Mama. Dia adalah sosok yang bisa membawa masa lalunya sebagai bekal untuk mendidikku untuk menjadi seorang perempuan yang tangguh. Sama sepertinya diusiaku, mengejar cita-cita namun harus terhenti karena keadaan. Beruntungnya, ia bertemu dengan pria yang bisa membuka jendela dunia nya kembali dengan dukungan penuh untuk menggali hasrat lain yang ada pada dirinya. Mama terlatih untuk bertahan dalam keadaan yang sulit namun ia tetap syukuri karena itulah yang membawanya seperti sekarang ini.

Mama bukanlah lulusan sarjana, bukan seseorang yang penting dalam sebuah struktur organisasi atau jabatan. Bukan, bukan itu yang ingin aku bagikan. Tapi bagaimana Mama mengasah hasratnya yang lain untuk menjadikan itu sebagai jati dirinya selama hidup. Ternyata, dukungan penuh dari sosok pria itu yang tak lain adalah Papa berbuah manis untuk kehidupan rumah tangganya. Berbekal dengan dukungan penuh itulah Mama bisa yakin dengan keputusannya yang sejak seperempat abad umurnya memilih berperan sebagai seorang istri dan ibu untuk anak-anaknya sembari menekuni hasrat dan kemampuannya dan meninggalkan cita-cita semasa sekolah. Berperan sebagai ibu rumah tangga ternyata sangat menyita waktu katanya, tapi setiap harinya adalah belajar, belajar lagi pekerjaan baru yang bukan keinginannya. Melatih lagi kesabarannya dengan mengenyampingkan egonya, menomor sekian kan urusan dirinya sendiri. Lalu, apa hasilnya dari belajar setiap hari dalam kehidupan rumah tangga sampai-sampai lupa dengan diri sendiri? 
"Terlahirlah suasana damai dan hangat, selalu dirindukan dan dinantikan oleh keluarganya. Itu lebih dari apapun", kata Mama. 

Menjadi perempuan dengan segala pilihannya, dengan segala julukan dan kodratnya adalah bagaimana ia tumbuh menjadi sesosok manusia yang perpegang teguh dengan pilihannya, bisa mempertanggungjawabkan dan tetap berdikari dalam keadaan apapun walaupun dengan balutan perasaan yang mudah rapuh. Walau kadang jatuh, ia mampu bangkit dan meninggalkan kesedihannya.

Menjadi perempuan dengan cita-citanya yang besar tak menghilangkan apa yang benar-benar ada pada nalurinya ia akan tetap kembali pada pelukan yang bisa menghangatkannya, memberikan rasa nyaman dan apresiasi dengan bahasa cinta yang ia butuhkan.

Dulu aku pun sama mempunyai cita-cita yang sangat tinggi namun terhenti begitu saja karena keadaan. Tidak memaksa, tapi aku membiarkannya pergi tanpa aku kejar lagi. Seiring berjalannya waktu aku tahu aku punya sesuatu yang bisa ku asah yang bisa aku siapkan untuk bekal masa depanku. Tak ku sangka, setelah melihat banyak sosok yang mengagumkan, ternyata Mama adalah sumber inspirasiku. Perempuan ini yang akan menjadikanku Perempuan yang tangguh. Ternyata cita-citaku pun ingin menjadi ibu rumah tangga. Mungkin pada masa Mama dulu masih terbelenggu oleh pikiran-pikiran sempit atau masa yang belum berkembang banyak. Saat ini dunia sudah berubah, sudah banyak membawa perubahan yang bisa mendukung keberadaan perempuan ditempat yang lebih baik. Aku tak meninggalkan sekolahku, aku tetap ingin bersekolah namun dengan hasrat lain yang aku inginkan. Banyak sekali harapan saat menjadi mahasiswi jurusan seni, naluri keibuanku berkata "nanti bisa menemani anak bermain dengan kreatif karena seni sangat menyenangkan dan bisa membuka luas imajinasiku". Beruntungnya aku sama seperti Mama, bertemu dengan pria yang mau membantu membukan jendela duniaku dan mendukung penuh apa yang aku ingin lakukan. 

Bagiku, menjadi perempuan saat ini dengan bekal ilmu yang lebih tinggi merupakan sebuah nilai yang tak terhingga. Bekal untuk masa depannya menjadi sangat besar dan berharga. Walaupun tak menjadi wanita karir, tak duduk diperusahaan bergengsi, tapi aku sangat bersyukur menjalani peran ibu rumah tangga dengan ilmu seni yang aku miliki. Aku tetap bisa menjalani peran itu sambil terus mengasah kreatifitasku dalam berseni. Membuat karya yang bisa dinikmati oleh diriku sendiri ataupun orang lain yang bisa melihatnya. Dimasa yang terus berkembang ini, pengalamanku bersekolah bisa membantuku melalui masa ini dengan nyaman, bisa mengikuti segala perubahannya yang sangat pesat sehingga karya-karya kecilku dapat aku bagikan dilaman terkini dan berharap kebermanfaatan dari apa yang aku ciptakan.

Teruntuk diriku, seorang perempuan. 

Terimakasih untuk perjuangannya mempersiapkan bekal untuk masa depanmu dan beberapa orang yang akan menjadi bagian dari hidupmu yang juga akan menikmati bekal mu yang dengan penuh cinta dan kasih. Terimakasih sudah banyak menyita waktu untuk bertumbuh menjadi perempuan yang bisa memeluk dirinya saat terjatuh. 

Teruntuk Mama, 

Terimakasih untuk inspirasinya, walaupun kau tak akan pernah sadar akan hal itu tapi lihatlah bagaimana sekarang aku bisa menjalani kehidupanku dengan penuh suka cita. Selamat hari Ibu, Mah.
Selamat ulang tahun. Semoga mamah selalu dalam lindungan Allah SWT, diberikan kesehatan dan umur yang berkah. Semoga Allah panjangkan umur mamah untuk bisa menyangksikan anak-cucu mamah tumbuh dengan bahagia. 

Miss you, Mah.
You know I love you.