Maret 19, 2020

Jeda Bersama Senja

Menyaksikan hiruk pikuk kehidupan bahkan sampai menjalaninya sendiri setiap hari. 
Perasaan lelah dan jenuh bukan lagi hanya ilusi, semua benar adanya terasa dilubuk hati. 
Manusia terkadang lupa dengan fitrahnya, 
lupa dengan tempat dimana dia berpijak.
Hidup bukan kompetisi, emosi kadang merasuki diri
tanpa melihat apa sebenarnya yang paling berarti.
 Manusia terkadang lupa akan letihnya, berusaha melawan semesta
untuk membuktikan kehebatannya tanpa pernah berpikir sejenak,
 untuk apa semua yang dilakukan ini?! 
Manusia terkadang tak sadar akan hadirnya perasaan 
dimana disanalah saatnya ia harus menepi.
Dalam belenggu relung jiwa yang terasuki rasa tak nyaman,
dirimu hanya butuh ruang sejenak. 

Semesta tau seberapa lelah dan letihnya dirimu. 
Tanpa perlu kau berseru ia pun pasti tahu. 

Langit perlahan memudar beriringan dengan langkahmu yang semakin lamban,
Mentari tak lagi sanggup menyinari harimu yang sudah penuh keluh kesah itu. 
Bahkan, awan sampai tega menutup sinar itu agar dirimu sedikit merunduk. 
Sampai semesta tahu, ia pun harus membisu.

Kala itu, yang harus kau pikirkan adalah
betapa pedulinya semesta dengan mu sampai ia pun
harus ikut membisu 
agar kau melihat dirimu.

Lihat dirimu, 
sejauh apa kakimu melangkah ke persinggahan?
seberapa jauh semesta menuntunmu ke tempat yang kau inginkan?
Lihat lebih jauh lagi, betapa deras keringat itu membasahi kalbu
 yang berusaha menipu dirimu.

Duduklah sejenak,
Dirimu pun tahu kau butuh dimanjakan,
dirimu pun butuh belaian. 

Sadarlah, 
Semesta hanya ingin mengenalkan mu pada sinar yang rupawan,
sinar yang akan membuatmu terpukau damai pada keelokannya.
Langit, mentari bahkan awan yang selalu berusaha menutup-nutupi itu
ia rela bersenandung bersama. 

Senja, keindahan sinar yang rupawan.
Kisahkan berjuta cerita penuh warna.
Jeda lah hari mu bersamanya. 
Lihatlah lukisan yang ia buat untukmu dilangit,
Langit dengan senang hati akan memberikan ruang itu untukmu.
Merah, kuning, jingga dan biru saling berpadu,
warna yang bisa menggugahmu untuk merindu,
merindu segala ketenangan sebelum ia direnggut keresahan.
Merah, kuning, jingga dan biru,
ia akan mengembalikan letihmu menjadi pribadi baru, 
menuntun egomu pada kebesaran hatimu,
 mengembalikan keluh kesahmu menjadi semangat baru,
menuntun harimu berakhir dengan syahdu.
Jedalah bersamanya, 
sampai ia menghilang bersama lelahmu.



Written by Valia

Thoughts in Paper
#Senja

Maret 16, 2020

Sedikit Lagi


Ini adalah sepenggal kisah Long Distance Relationship yang pernah aku jalani.

Hari ini entah kenapa dari bangun pagi tadi yang dibangunin sama suamiku membawa hari ini begitu berwarna, padahal seperti yang biasa dilakukan namun rasanya hari ini beda. 

Rasanya sumringah, ingin ketawaaaa terus. Rutinitas aku setelah lulus kuliah adalah ikut suami kerja di kantornya, sebuah perusahaan yang ia rintis sejak duduk di bangku kuliah semester lima. Wah kalo diceritain bisa panjaaaaang bgt. Ya pokoknya pekerjaanku sekarang sedikit membantu merapikan pekerjaannya. 

Prioritasku untuk sekarang bukan mengincar perusahaan bergengsi atau mencari pengalaman seperti yang dilakukan teman-teman angkatanku, karena alhamdulillah suami bisa memberi tempat "bekerja" aku yaitu untuk menemani dia bekerja, esensinya sama-sama bekerja tapi dapet bonus tatap muka 24jam nonstop tanpa jarak, dan bisa makan siang bersama hihi

Ngomong-ngomong soal jarak, aku baru aja beberapa menit yang lalu menemukan catatan kecil aku.
Catatan ini tertulis tanggal 20 Maret 2019 pukul 18:25 di handphone ku.

...
Sedikit lagi,
rasa ingin tahu akan kemampuan diri dan tantangan ini akan usai.
Jarak akan menyempit, mendekatkan dari yang selama ini dinanti 
dan membawa kepulangan yang berarti.

Usainya pun tak terhenti sampai disini,
karena tantangan sesungguhnya baru akan dimulai
namun, dengan raga yang tak sendiri,
yang keringat dan leahnya akan surut
apabila disuguhkan dengan kecupan manis 
di penghujung hari.

Berdua..
Bersama melanjutkan mimpi yang sempat terhenti,
bersama merajut kembali asmara yang sempat tak terkendali,
bersama dengan kamu, 
sehidup semati. 

Cita-cita dan cinta,
keduanya adalah mimpi yang harus terus digali,
dipahami dan dibenahi.
Ada masa dimanaa hati merasa letih, 
dimana ada masa raga tak kuasa menjalani.
Namun dengan mu selalu ada penawar kekalutan itu,
karena dengan kamu cita-citaku sempurna.

...

Aku ingat sekali waktu nulis ini aku sedang bekerja disalah satu perusahaan di kota tempatku kuliah. Ya, jadi waktu semester 7 aku pernah magang disalah satu perusahaan f&b dan melanjutkan untuk menjadi karyawan tetap disela-sela kuliahku sembari mencari pengalaman. Aku senang bekerja disana, selain lingkungannya yang religi, aku juga bisa intip-intip bahan apa saja yang dipakai oleh perusahaan itu sehingga produknya memang high quality dan rasanya enak. 

Sore itu aku baru sampai dikost tempat aku tinggal, sembari istirahat sejenak karena jalanan begitu padat, aku membuka menu catatan dihandphoneku, rasanya lelah, kangen suami, namun aku sudah berencana bulan April mendatang kala itu aku akan mengundurkan diri. So, jadilah tulisan itu yang agak melow karena nulisnya pas disaat senja.

Maret 12, 2020

For Someone

This small letter belongs to you.
I hope this would be a little reminder for us especially as a woman
...
Sometimes we don't realize, our talks are over the condition.
We don't look around, it might be hurt someone deeply.
Sometimes our topics in the afternoon remind someone of her dark past,
and it brokes her again.
Sometimes our massage in the WhatsApp group leaves a horrible word
who brokes her fight again.
...
Dear women with beautiful souls,
As a human being with so much pretty similar personality,
we know how sickness feels like, how if we feel the same thing like another woman,
how if we are in their phases. You know how it feels. 
...
But, if you haven't felt in her position before,
don't guess any perception that you don't even run into it.
Don't judge although it is only a tiny tiny bad word.
Don't even touch her tears if you don't care,
and don't ask why to her problems,
if you care, you are ready to listen not asking.
...
Here I am, talking mindfully.
For someone who struggling right now,
someone who has a rough-in every day, every month,
someone who waiting for a little hope and little light,
someone who waiting for a miracle,
someone who needs a shoulder to cry on,
someone who feels nothing to live,
someone who doesn't have a hand to hold on to, please keep in faith.
... Don't lose your hope,
deep down you heard a louder voice that sounds
"you will, and you can"!
Keep fighting for all your efforts, make peace with yourself,
release your negative energy, throw it and feel you're free.
Enjoy your day with a cup of happiness from your smile,
sitting on the grass under the sun, drink chamomile tea
and take a deep breath,
It oke to feel like this, accept it.
someday you can pass it
with a blessed feeling.
...
You are not alone,
with all of your sickness, struggles, waiting, hope
you are with me,
you can't pass this alone, neither can I.
Imma a warrior, just like you.


written by Valia

Maret 11, 2020

Temenin aku nulis lagi ya! #Backtocomfortzone

Enggak tahu mau mulai lagi dari mana. Empat tahun yang lalu masih suka mampir-mampir ke blog ini dan sempat nulis satu judul. Oh ya, ceritanya random banget sih akhirnya pengen login ke blog. Lagi liat feeds instagram, beberapa temen aku posting-posting thread yang lagi happening, terus aku kepo "kayaknya asik main twitter lagi, install ah". Akhirnya setelah login twitter dan buka profile ada link valiana-savitri.blogspot.com. Waahh suppeerrr impressed! Kaget, seneng, kangen banget rasanya dan pas aku buka wow stories oldest time sekali, bahasanya masih kaku, yang ditulis juga huft banget, mungkin alay. hahaha.
Oh ya, aku Valia. Nama lengkapnya Valiana Savitri. Cuma yang manggil macem-macem. Teman kecil pasti manggil Vitri, atau neng karena aku orang sunda dan orang tuaku manggil aku neng. Masuk ke SMA dipanggilnya Valiana, entah kenapa aku enggak suka banget dipanggil Valiana, sounds stranger, aneh dan gak luwes.  Satu hari diruang Bimbingan Konseling di SMA ada guru Kimia manggil aku dengan sebutan Valia. "Valia, catatan kamu rapi sekali saya suka" kata guru kimia ku. Kok aku seneng bgt sama sebutan Valia ya, malahan gak peduliin pujian dia sama catatan aku wkwkw terdengar ramah dan dekat sekali, walaupun pada akhirnya kalau lagi buru-buru yang disebut cuma tiga huruf awal, Val. But it's oke kalau buru-buru.


Menulis sebenarnya bagian dari diri aku, aku kalau lagi diem mind brings me up jadi selalu mikirin yang gak perlu dipikirkan. Dan pikiran aku ini jadi random kalau mau tidur, gabisa nempel bantal langsung molor, pasti liat langit-langit kamar dan mikirin dari awal bangun tidur tadi pagi sampe aku narik selimut buat tidur saat itu, kejadian apa yang terjadi hari itu aku selalu ingat persis. Kalau hari itu seneng, pas mau tidur terasa lagi rasa senengnya  begitupun sebaliknya kalau hari itu sedih aku bisa kebawa nangis dulu sampe sesegukan, udah capek nangis baru bisa tidur. Apa aku termasuk orang yang over thinking?


Sampai satu hari kalau gak salah SMP mulai bikin blog, aku seperti menemukan tempat yang nyaman, walaupun yang baca mungkin bisa di hitung jari, tapi aku nyaman berbagi disini. Pikiran aku yang random itu seperti menuntun jari-jari aku untuk "ayo keluarkan semuanya, tuangkan disini. Jangan biarkan bersarang diotakmu, dia lelah". Jadilah artikel-artikel yang ada diblog ini dengan segala gaya bahasa yang semerawut yang aku buat, tapi semua based on my story. 

Dear all readers,

temenin aku nulis lagi ya, mungkin kamu diluar sana punya feel yang sama seperti aku, 
kita coba saling sharing ya.