Menyaksikan hiruk pikuk kehidupan bahkan sampai menjalaninya sendiri setiap hari.
Perasaan lelah dan jenuh bukan lagi hanya ilusi, semua benar adanya terasa dilubuk hati.
Manusia terkadang lupa dengan fitrahnya,
lupa dengan tempat dimana dia berpijak.
Hidup bukan kompetisi, emosi kadang merasuki diri
tanpa melihat apa sebenarnya yang paling berarti.
Manusia terkadang lupa akan letihnya, berusaha melawan semesta
untuk membuktikan kehebatannya tanpa pernah berpikir sejenak,
untuk apa semua yang dilakukan ini?!
lupa dengan tempat dimana dia berpijak.
Hidup bukan kompetisi, emosi kadang merasuki diri
tanpa melihat apa sebenarnya yang paling berarti.
Manusia terkadang lupa akan letihnya, berusaha melawan semesta
untuk membuktikan kehebatannya tanpa pernah berpikir sejenak,
untuk apa semua yang dilakukan ini?!
Manusia terkadang tak sadar akan hadirnya perasaan
dimana disanalah saatnya ia harus menepi.
Dalam belenggu relung jiwa yang terasuki rasa tak nyaman,
dirimu hanya butuh ruang sejenak.
dimana disanalah saatnya ia harus menepi.
Dalam belenggu relung jiwa yang terasuki rasa tak nyaman,
dirimu hanya butuh ruang sejenak.
Semesta tau seberapa lelah dan letihnya dirimu.
Tanpa perlu kau berseru ia pun pasti tahu.
Langit perlahan memudar beriringan dengan langkahmu yang semakin lamban,
Mentari tak lagi sanggup menyinari harimu yang sudah penuh keluh kesah itu.
Bahkan, awan sampai tega menutup sinar itu agar dirimu sedikit merunduk.
Sampai semesta tahu, ia pun harus membisu.
Kala itu, yang harus kau pikirkan adalah
betapa pedulinya semesta dengan mu sampai ia pun
harus ikut membisu agar kau melihat dirimu.
harus ikut membisu agar kau melihat dirimu.
Lihat dirimu,
sejauh apa kakimu melangkah ke persinggahan?
seberapa jauh semesta menuntunmu ke tempat yang kau inginkan?
Lihat lebih jauh lagi, betapa deras keringat itu membasahi kalbu
yang berusaha menipu dirimu.
yang berusaha menipu dirimu.
Duduklah sejenak,
Dirimu pun tahu kau butuh dimanjakan,
dirimu pun butuh belaian.
Sadarlah,
Semesta hanya ingin mengenalkan mu pada sinar yang rupawan,
sinar yang akan membuatmu terpukau damai pada keelokannya.
Langit, mentari bahkan awan yang selalu berusaha menutup-nutupi itu
ia rela bersenandung bersama.
Senja, keindahan sinar yang rupawan.
Kisahkan berjuta cerita penuh warna.
Jeda lah hari mu bersamanya.
Lihatlah lukisan yang ia buat untukmu dilangit,
Langit dengan senang hati akan memberikan ruang itu untukmu.
Merah, kuning, jingga dan biru saling berpadu,
warna yang bisa menggugahmu untuk merindu,
merindu segala ketenangan sebelum ia direnggut keresahan.
Merah, kuning, jingga dan biru,
warna yang bisa menggugahmu untuk merindu,
merindu segala ketenangan sebelum ia direnggut keresahan.
Merah, kuning, jingga dan biru,
ia akan mengembalikan letihmu menjadi pribadi baru,
menuntun egomu pada kebesaran hatimu,
menuntun egomu pada kebesaran hatimu,
mengembalikan keluh kesahmu menjadi semangat baru,
menuntun harimu berakhir dengan syahdu.
menuntun harimu berakhir dengan syahdu.
Jedalah bersamanya,
sampai ia menghilang bersama lelahmu.
Written by Valia
Thoughts in Paper
#Senja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar